Senin, 03 November 2014

Filsafat Pendidikan dalam Tritologi Ilmu Pengetahuan


1. Ontologi Pendidikan
Ontologi tidak terlepas dari filsafat karena filsafat diperlukan untuk menjelaskan dasar ontologis dari hampir setiap ilmu, termasuk dalam kajian pendidikan. Aspek realitas yang dijangkau teori pendidikan melalui pengalaman pancaindra adalah dunia pengalaman manusia secara empiris. Dalam situasi sosial, manusia sering berprilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berprilaku individual dan makhluk sosial yang berprilaku kolektif. Hal itu dikarenakan pada ruang lingkup pendidikan makro berskala besar mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai tertentu.
Filsafat pendidikan merupakan bidang filsafat terapan, bermula dari bidang tradisional filsafat. Dengan kata lain, filsafat pendidikan adalah studi filosofis tentang tujuan, proses, alam, dan cita-cita pendidikan. Sebagai contoh, filsafat mencakup sebagai hal berikut:
1. mempelajari definisi mengasuh dan mendidik
2. mempelajari pengaplikasian nilai-nilai dan norma-norma.
3. mempelajari batas-batas dan legimitasi pendidikan sebagai disiplin akademis
4. mempelajari hubungan antara teori dan praktik pendidikan pada umumnya.
 Filsafat pendidikan dapat dianggap sebagai cabang dari filsafat dan pendidikan. Filsafat pendidikan tidak hanya menjadi bidang pendidikan yang memiliki konteks yang sangat beragam, tetapi juga menjadikan filsafat pendidikan tidak mudah didefinisikan. Menurut made pidarta, ontology filsafat pendidikan mempertanyakan hal-hal berikut:
1. apakah pendidikan itu?
2. apa yang hendak dicapai?
3. Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan-tujuan pendidikan?
4. bagaimana sifat pendidikan itu?
5. bagaimana perbedaan pendidikan teori dengan praktik?
6. bagaimana hakikat kurikulum yang disajikan?
7. bagaimana dan siapa peserta didiknya?
8. bagaimana sistem pengembangan bakat dan minat anak didik?
Pendekatan ontologi atau metafisikmenekankan pada hakikat keberadaan, dalam hal ini keberadaan manusia itu sendiri. Dalam pemahaman tersebut, sudah tentu hakikat pendidikan atau ontologi pendidikan berakar dari kebutuhan manusia terhadap proses pelatihan kemandirian berfikir, mandiri mengambil keputusan, mengamankan kehormatan dan harga dirinya, dan manusia yang mengerti tujuan hidup hari ini, besok, dah yang akan datang.
2. Epistemologi Pendidikan
Epistemologi adalah kata lain dari filsafat ilmu yaitu knowledge, yaitu, pengetahuan dan logis (theory). Jadi epistemologi adalah “teori pengetahuan” atau teori tentang cara, metode, dan dasar dari ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan suatu cabang filsafat yang meneliti asal-usul, struktur, metode-metode, dan kesahan pengetahuan. Epistemologi berbeda denga logika, jika logika merupakan sains formal yang berkenaan pada prinsip-prinsip penalaran yang sah, maka Epistemologi adalah sains filosofis tentang asal-usul pengetahuan dan kebenaran.
3. Aksiologi pendidikan
Aksiologi berasal dari kata yunani dengan asal kata axsio (nilai), serta logos (ilmu). Jadi aksiologi sedikitnya merupakan postulat yang membahas kegunaan atau nilai guna dari suatu disiplin ilmu. Maksudnya adalah memikirkan segala hakikat pengetahuan atau hakikat keberadaan guna dari suatu pendidikan itu sendiri, baik secara umum maupun secara khusus. Oleh karena itu, kajiannya mengarah diri pada dasar-dasar pengetahuan dalam bentuk penalaran, logika, sumber pengetahuan, dan kriteria kegunaan dari suatu kebenaran.
Tujuan aksiologi pendidikan secara esensial adalah terwujudnya anak didik yang memahami ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terwujudnya insane kamil, yaitu manusia yang kembali pada fitrah dan pada tujuan kehidupannya yang sejati.









Daftar Pustaka
Noorhayati aliet sutrisno, pandanita windari, fikriyah.2012. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: deepublish
Poespoprodjo, W., Logika Scientifika. 1999. Pengantar Dialektika dan Ilmu. Bandung: Pustaka Grafika
Sadulloh, Uyoh. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sadulloh, Uyoh.1994. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek
Tafsir, Ahmad. 2009. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Senin, 20 Oktober 2014

Latar belakang filsafat pendidikan

 Makna latar belakang filsafat Pendidikan

Pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungn sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkugan masyarakat, merupakan alat bagi manusia untuk pengembangan manusia yang terbaik dan inteligen, untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional.
Dari pengertian di atas ada beberapa prinsip dasar tentang pendidikan yang dilaksanakan:
Pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia lahir dari kandungan ibunya sampai tutup usia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya. Suatu konsekuensi dari konsep pendidikan sepanjang hayat adalah, bahwa pendidikan tidak identik dengan persekolahan. Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kedua, bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua manusia. Pemerintah, masyarakat, harus berusaha semaksimal mungkin agar pendidikan mencapai tujuan yang ditetapkan.
Ketiga, bagi manusia pendidikan merupakan suatu keharusan karena dengan pendidikan manusia akan memiliki suatu kemampuan dan kepribadian yang berkembang, yang disebut manusia seluruhnya. Pendidikan pada dasarnya suatu hal yang tidak dapat dielakkan oleh manusia, suatu perbuatan yang tidak boleh tidak terjadi, karena pendidikan itu membimbing generasi muda untuk mencapai suatu generasi yang lebih baik.
Dari tiga prinsip di atas, tersirat pesan bahwa pendidikan merupakan proses transformasi nilai dari generasi ke generasi berikutnya. Proses transformasi nilai ini dilakukan melalui kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih. Maka, dalam pelaksanaannya, ketiga kegiatan tersebut harus berjalan secara terpadu dan berkelanjutan serta serasi dengan perkembangan peserta didik dan lingkungan hidupnya.
Nilai-nilai yang akan kita transformasikan tersebut mencakup nilai-nilai religi, nilai-nilai kebudayaan, nilai-nilai sains dan teknologi, nilai-nilai seni, dan nilai keterampilan. Nilai-nilai yang ditransformasikan tersebut dalam rangka mempertahankan, mengembangkan, bahkan kalau perlu mengubah kebudayaan yang dimiliki masyarakat. Maka, di sini pendidikan akan berlangsung dalam kehidupan.
4. Filsafat Pendidikan
Filsafat, selain memiliki lapangan tersendiri, ia memikirkan asumsi fundamental cabang-cabang pengetahuan lainnya. Apabila filsafat berpalilng perhatiannya pada sains, maka akanlahir filsafat sains. Apabila filsafat menguji konsep dasar hukum, maka akan lahir filsafat hukum. Dan, apabila filsafat berhadapan dan memikirkan pendidikan, maka akan lahirlah filsafat pendidikan.
Al-Syaibany (1979) dalam Uyoh Sadulloh (2009) menyatakan bahwa filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dari segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis.
Filsafat pendidikan bersandarkan pada filsafat formal atau filsafat umum. Dalam arti bahwa masalah-masalah pendidikan merupakan karakter filsafat. Masalah-masalah pendidikan akan berkaitan dengan masalah-masalah filsafat umum, seperti:
a) Hakikat kehidupan yang baik, karena pendidikan akan berusaha untuk mencapainya;
b) Hakikat manusia, karena manusia merupakan makhluk yang menerima pendidikan;
c) Hakikat masyarakat, karena pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses sosial;
d) Hakikat realitas akhir, karena semua pengetahuan akan berusaha untuk mencapainya.
Selanjutnya al-Syaibany (1979) mengemukakan bahwa terdapat beberapa tugas yang diharapkan dilakukan oleh seorang filsuf pendidikan, di antaranya:
a) Merancang dengan bijak dan arif untuk menjadikan proses dan usaha-usaha pendidikan pada suatu bangsa;
b) Menyiapkan generasi muda dan warga negara umumnya agar beriman kepada Tuhan dengan segala aspeknya;
c) Menunjukkan peranannya dalam mengubah masyarakat, dan mengubah cara-cara hidup mereka ke arah yang lebih baik;
d) Mendidik akhlak, perasaan seni, dan keindahan pada masyarakat dan menumbuhkan pada diri mereka sikap menghormati kebenaran, dan cara-cara mencapai kebenaran tersebut. Filsuf pendidikan harus memiliki pikiran yang benar, jelas, dan menyeluruh tentang wujud dan segala aspek yang berkaitan dengan ketuhanan, kemansiaan, pengetahuan kealaman, dan pengetahuan sosial. Filsuf pendidikan harus pula mampu memahami nilai-nilai kemanusiaan yang terpancar pada nilai-nilai kebaikan, keindahan, dan kebenaran.
Keneller (1971) menyebutkan filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsamat dalam lapangan pendidikan. Seperti halnya filsafat, filsafat pendidikan dapat dikatakan spekulatif, preskriptif, dan analitik.
Filsafat pendidikan dikatakan spekulatif karena berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, hakikat masyarakat, hakikat dunia, yang sangat bermanfaat dalam menafsirkan data-data sebagai hasil penelitian sains yang berbeda.
Filsafat dikatakan preskriptif apabila filsafat pendidikan menentukan tujuan-tujuan yang harus diikuti dan dicapainya, dan menentukan cara-cara yang tepat dan benar untuk digunakan dalam mencapai tujuan tersebut. Pendidikan yang bedasarkan pada falsafah Pancasila yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 adalah preskriptif. Karena, secara tersurat menentukan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Pendidikan yang berdasarkan Pancasila juga menentukan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, dengan melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah, dilengkapi pula dengan aturan-aturan yang berkaitan dengan pelaksanaannya.
Filsafat pendidikan dikatakan analitik, apabila filsafat pendidikan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan spekulatif dan preskriptif. Misalnya menguji rasionalitas yang berkaitan dengan ide-ide atau gagasan-gagasan pendidikan, dan menguji bagaimana konsistensinya dengan gagasan lain. Misalnya kita memperkenalkan konsep Cara Belajar Siswa Aktif. Kita kaji konsep tersebut dengan menganalisis dari sudut pandang falsafah Pancasila. Filsafat pendidikan analitik menguji secara logis konsep-konsep pendidikan, seperti apa yang dimaksud dengan Pendidikan Dasar 9 Tahun, Pendidikan Akademik, Pendidikan Seumur Hidup, dan sebagainya.
5. Pentingnya Filsafat Pendidikan
Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, di mana pendidikan merupakan salah satu aspek dari kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapat melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan membutuhkan filsafat. Mengapa pendidikan membutuhkan filsafat? Karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak terbatasi oleh pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan yang faktual, tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
Seorang guru, baik sebagai pribadi maupn sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat dan filsafat pendidikan karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan tidak dapat dimengerti sepenuhnya tanpa mengetahui tujuan akhirnya. Tujuan akhir pendidikan perlu dipahami dalam kerangka hubungannya dengan tujuan hidup tersebut, baik tujuan individu maupun tujuan kelompok. Guru sebagai pribadi, memiliki tujuan dan pandangan hidupnya. Guru sebagai warga masyarakat atau warga negara memiliki tujuan hidup bersama.
Hubungan filsafat dengan pendidikan dapat kita ketahui, bahwa filsafat akan menelaah suatu realitas dengan lebih luas, sesuai dengan ciri berpikir filsafat, yaitu radikal, sistematis, dan universal. Konsep tentang dunia dan pandangan tentang tujuan hidup tersebut akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan.
Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para perencana pendidikan, dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan. Hal tersebut akan mewarnai perbuatan mereka secara arif dan bijak, menghubungkan usaha-usaha pendidikannya dengan falsafah umum, falsafah bangsa dan negaranya. Pemahaman akan filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
Filsafat pendidikan juga secara vital berhubungan dengan pengembangan semua aspek pengajaran. Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para guru dapat menemukan berbagai pemecahan pada banyak permasalahan pendidikan. Lima tujuan filsafat pendidikan dapat mengklarifikasi bagaimana dapat berkontribusi pada pemecahan-pemecahan tersebut:
a. Filsafat pendidikan terkait dengan peletakan suatu perencanaan, apa yang dianggap sebagai pendidikan terbaik secara mutlak.
b. Filsafat pendidikan berusaha memberikan arah dengan merujuk pada macam pendidikan yang terbaik dalam suatu konteks politik, sosial, dan ekonomi.
c. Filsafat pendidikan dipenuhi dengankoreksi pelanggaran-pelanggaran prinsip dan kebijakan pendidikan.
d. Filsafat pendidikan memusatkan perhatian pada isu-isu dalam kebijakan dan praktek pendidikan yang mensyaratkan resolusi, baik dengan penelitian empiris ataupun pemeriksaan ulang rasional.
e. Filsafat pendidikan melaksanakan suatu inkuiri dalam keseluruhan urusan pendidikan dengan suatu pandangan terhadap penilaian, pembenaran, dan pembaharuan sekumpulan pengalaman yang penting untuk pembelajaran.
Terdapat suatu hubungan yang kuat antara perilaku seorang guru dengan keyakinannya mengenai pengajaran danpembelajaran, siswa, pengetahuan, dan apa yang bermanfaat untuk diketahui. Terlepas di mana seseorang berdiri berkenaan dengan kelima dimensi pengajaran tersebut, guru harus tahu perlunya merefleksikan secara berkelanjutan pada apa yang ia sangat yakini dan kenapa ia meyakininya.
Dari uraian di atas terlihat bahwa peranan guru yang strategis, karena di tangannya terletak nasib generasi penerus, mengharuskan para guru memahami hakikat nilai, etika, estetika, sains, teologi, alam (kosmos), pendidikan, dan hakikat anak didik. Pemahaman terhadap lapangan filsafat memberikan panduan dan dapat menumbuhkan keyakinan terhadap misi pendidikan yang diembannya sehingga tercipta perilaku mengajar yang lebih bermakna dan lebih bermanfaat bagi peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Halim, Abdul Hakim, Filsafat Ilmu dan Hakekat Penelitian, Materi Kuliah Umum di Universitas Pakuan Bogor pada tanggal 26 September 2010.
Materi Pokok Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Pakuan, 2010.
Poespoprodjo, W., Logika Scientifika, Pengantar Dialektika dan Ilmu, Pustaka Grafika, Bandung, 1999.
Sadulloh, Uyoh, Pengantar Filsafat Pendidikan, Alfabeta, Bandung, 2009.
Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Kamis, 08 Agustus 2013

Nabilah Ratna Ayu Azalia

Nabilah Ratna Ayu Azalia

Nama
Nabilah Ratna Ayu Azalia
Tanggal Lahir
Golongan Darah
B
Horoskop
Scorpio
Tinggi Badan
153cm
Nama Panggilan
Ayu-chin



Nabilah Ratna Ayu Azalia

Nabilah Ratna Ayu Azalia (lahir di Jakarta, 11 November 1999; umur 13 tahun) adalah penyanyi dan pemeran Indonesia, anggotagrup idola JKT48. Ia adalah anggota termuda di antara semua anggota JKT48.

Karier
Nabilah termasuk 28 peserta yang lulus audisi JKT48 pada 2 November 2011. Ia masih berusia 11 tahun ketika diterima sebagai anggota JKT48. Sebelum masuk JKT48, ia sudah sering jadi foto model dan bintang iklan, salah satunya adalah iklan tonikum Zevit Grow. Nabilah cadel, sejak kecil senang mengikuti kontes, pernah ikut lomba modeling, lomba mewarnai, dan lomba foto balita sehat.
Bersama rekannya dari Generasi 1, Nabilah tampil pertama kali sebagai JKT48 pada program musik 100% Ampuh di Global TV pada 17 Desember 2011. Mereka menyanyikan lagu debut JKT48, "Heavy Rotation" dengan lirik dalam bahasa Indonesia. Ia juga termasuk siswi pelatihan Generasi 1 JKT48 yang tampil dalam video musik pertama JKT48, "Heavy Rotation".
Nabilah juga termasuk siswi pelatihan JKT48 yang diperkenalkan dalam konser AKB48 Kouhaku Taikou Uta Gassen, 20 Desember 2011. Konser tersebut berlangsung di Tokyo Dome City Hall, Tokyo. Pada 31 Desember 2011, ia juga termasuk 16 orang anggota JKT48 yang tampil di acara Kouhaku Uta Gassen ke-62 di televisi Jepang NHK.  Ia termasuk anggota JKT48 yang tampil pada pertunjukan peresmian Teater JKT48 di Mal fX, Jakarta, 8 September 2012.
Nabilah termasuk 22 anggota Generasi 1 dan dua anggota transfer dari AKB48 yang diangkat menjadi anggota Tim J pada konser JKT48 First Anniversary Event di Gedung Bulutangkis Senayan, 23 Desember 2012.
Ia termasuk 16 anggota terpilih yang menyanyikan lagu utama singel perdana JKT48, "River" dan 10 anggota terpilih untuk singel kedua "Apakah Kau Melihat Mentari Senja?"

Nabilah termasuk enam anggota JKT48 yang membentuk unit JKT48 Lawson R&D Team untuk minimarket Lawson. Kontrak mereka berlangsung dari Juli hingga Desember 2013.

Selasa, 06 Agustus 2013


Sahabat Sejati

Sahabat yg baik adalah sahabat yg tidak akan menjelek2anmu, apalagi mengumbar aibmu pada orang lain walaupun pada saat itu ada perselisihan diantara kalian

Masa" yg paling indah adalah saat tahun ajaran akhir, tidak lama lagi pisah dengan kalian, sebisa mungkin tdk ada kenangan yg terlewatkan dgn kalian Sahabat


Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkn proses yg panjang seperti besi menajamkan besi, demkianlah sahabat yg menajamkan sahabatnya.


Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dgn ciuman, tetapi menyatakan apa yg amat menyakitkan dgn tujuan sahabatnya mau berubah


Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya


Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yg mementingkan diri sendiri


Mengenalimu adalah 1 kesyukuran, bergurau denganmu adalah 1 kebahagiaan, menyakiti hatimu akan kuelakkan, dan 1 permintaan dariku semoga persahabatan kita abadi hingga mati memisahkan kita


Sahabat yg baik adalah sahabat yg berani membetulkan kita ketika kita berbuat kesalahan sehingga kita tdk hanyut dalam kesalahan dan dosa


Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Rabu, 06 Maret 2013

Penting nya persahabatan


Persahabatan ( Sahabat Sejati)

gambar
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan
dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi
persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan
bertumbuh bersama karenanya…
Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi
membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi,
demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatan
diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,
diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak,
namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan
dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan
untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya
ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan
dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha
pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita
membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi
mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih
dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan
dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya,
karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati,
namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun
ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Beberapa hal seringkali menjadi penghancur
persahabatan antara lain :
1. Masalah bisnis UUD (Ujung-Ujungnya Duit)
2. Ketidakterbukaan
3. Kehilangan kepercayaan
4. Perubahan perasaan antar lawan jenis
5. Ketidaksetiaan.
Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan
oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinya.
Renungkan :
**Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri
“Dalam masa kejayaan, teman2 mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman2 kita.”**

Kamis, 12 Agustus 2010

puasa

semua harus menjalankan ibadah puasa , jangan sampai tidak menjalan kan ibadah puasa , karena ibadah puasa hanya datang nya sekali dalam satu tahun saja , jadi jangan sia-sia kan kesempatan untuk berpuasa